Jumat, 02 Okt 2026 14:19 WIB

Flyover Gedangan Dirancang Enam Lajur, Antisipasi Kepadatan Lalu Lintas hingga 30 Tahun

Rapat Koordinasi Pembahasan Kesepakatan ROW Pembangunan Flyover Gedangan antara PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan BBPJN di Ops Room Kabupaten Sidoarjo. (FOTO/ Kominfo Pemkab Sidoarjo).
Rapat Koordinasi Pembahasan Kesepakatan ROW Pembangunan Flyover Gedangan antara PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan BBPJN di Ops Room Kabupaten Sidoarjo. (FOTO/ Kominfo Pemkab Sidoarjo).

KABAR SIDOARJO – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali sepakat mempertimbangkan pembangunan Flyover Gedangan dengan skema right of way (ROW) enam lajur dua arah.

Skema tersebut dinilai perlu disiapkan untuk mengantisipasi peningkatan volume kendaraan dan kebutuhan lalu lintas hingga 30 tahun mendatang.

Bupati Sidoarjo Subandi mengatakan, penggunaan enam lajur menjadi salah satu opsi untuk memastikan kapasitas flyover mampu memenuhi kebutuhan lalu lintas dalam jangka panjang.

Menurut dia, jika flyover hanya dibangun dengan empat lajur, kapasitas jalan diperkirakan mencapai titik jenuh dalam waktu sekitar 15 tahun.

“Kalau kita menggunakan enam lajur, harapannya titik jenuh bisa teratasi sampai 30 tahun ke depan. Karena ini termasuk proyek nasional, harus dipertimbangkan untuk jangka panjangnya,” kata Subandi seusai Rapat Koordinasi Pembahasan Kesepakatan ROW Pembangunan Flyover Gedangan antara PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan BBPJN di Ops Room Kabupaten Sidoarjo, Kamis (1/10/2026).

Subandi menjelaskan, pembangunan Flyover Gedangan merupakan bagian dari program nasional. Karena itu, desain dan kebutuhan ruang jalan harus dipersiapkan secara matang agar pembangunan yang dilakukan saat ini dapat mengakomodasi kebutuhan lalu lintas di masa mendatang.

“Program nasional ini harus kita pikirkan untuk 30 tahun ke depan. Kalau DED sekarang sudah diputuskan, tinggal satu langkah lagi untuk menyelesaikannya,” ungkapnya.

Dia berharap kesepakatan mengenai skema ROW dapat segera dituntaskan oleh seluruh pihak terkait. 

“BBPJN dan PT KAI masih membahas kebutuhan ruang serta desain pembangunan flyover Gedangan,” jelas subandi.

Perwakilan PT KAI, Donny, menyampaikan dukungan terhadap pembangunan Flyover Gedangan. Namun, PT KAI membutuhkan kepastian mengenai skema ROW enam lajur dua arah agar kebutuhan teknis dan ruang milik perkeretaapian dapat disesuaikan dengan desain flyover.

“PT KAI membutuhkan kepastian mengenai skema ROW enam lajur dua arah agar kebutuhan teknis dan ruang milik perkeretaapian dapat disesuaikan dengan desain flyover,” kata Donny.

Sementara itu, Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya Denny Michels Adlan mengatakan, desain Flyover Gedangan juga harus memperhitungkan rencana pengembangan sistem perkeretaapian, termasuk program Surabaya Regional Railway Line (SRRL).

Menurut Denny, tahapan program SRRL saat ini sudah berjalan dan laporan pendahuluan telah dilakukan. Oleh karena itu, pembangunan flyover harus dirancang agar tidak menghambat pengembangan jalur kereta api pada masa mendatang.

“Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah batas ketinggian ruang milik jalan (rumija) dan ruang manfaat jalan (rumaja). Jangan sampai nantinya mengganggu arus kereta api serta akses menuju Stasiun Gedangan. Ketinggian ini harus menjadi pertimbangan dalam desain,” ujar Denny.

Selain aspek teknis perkeretaapian, tata ruang dan pengaturan lalu lintas di sekitar emplasemen Stasiun Gedangan juga perlu diperhitungkan.

Denny mengatakan, terdapat persimpangan sebelum sinyal masuk yang berpotensi memengaruhi kelancaran lalu lintas di kawasan tersebut. Karena itu, diperlukan rekayasa lalu lintas sekaligus penanganan perlintasan.

“Perlu ada rekayasa lalu lintas dan penanganan perlintasan. Kami tidak mungkin menggeser stasiun sebab akan mengubah geometri,” katanya.

Editor : Redaksi